Profil Moorissa Tjokro; Asalnya dari Indonesia, Kini Jadi Otaknya Tesla

Pancar.id, 09 January 2023 12:10:36
Penulis : Indriyani
Profil Moorissa Tjokro; Asalnya dari Indonesia, Kini Jadi Otaknya Tesla
Sumber Foto: Instagram/@lifeinbayarea


Pancar.id, Jakarta - Belakang ini, Tesla, Perusahaan start-up mobil listrik asal Amerika Serikat (AS) tengah naik daun dan secara perlahan mulai merangsek menjadi salah satu produsen mobil terlaris di dunia. 

Bukan hanya memiliki teknologi ramah lingkungan, mobil listrik Tesla juga dianggap sukses melompati zaman. Karena, mobil listrik tersebut sukses dalam mengembangkan sistem swakendali pada mobilnya. Dikenal dengan fitur Autopilot, sistem kemudi otonom ini sangat canggih hingga hampir seluruh kendali kemudi kendaraannya dilakukan oleh komputer.

Namun tahukah kalian? Jika di balik sistem kecerdasan buatan yang sangat canggih tersebut, ada sentuhan tangan dingin sosok wanita berusia 28 tahun dari Indonesia.

Adalah Moorissa Tjokro. Wanita cantik asal Indonesia ini berprofesi sebagai Autopilot Software Engineer atau insinyur perangkat lunak Autopilot di perusahaan Tesla. Hebatnya lagi, Moorissa ternyata tak pernah melamar untuk bekerja di perusahaan milik Elon Musk itu. 

Melalui wawancara dengan VOA Indonesia, Moorissa mengungkapkan bahwa sebenarnya pihak Tesla yang secara langsung menghubungi dirinya, dan mulai dari sanalah berlanjut ke proses interview.

"Nah aku tuh sebenarnya enggak pernah apply. Jadi sekitar dua tahun yang lalu, temanku magang di Tesla dan pada waktu itu dia yang sempat ngirimin resume-ku ke timnya. Setelah itu, langsung dikontak sama Tesla-nya sendiri dan dari situlah proses interview," ungkap Moorissa.

Tercatat sejak Desember 2018, Moorissa mulai bekerja untuk Perusahaan Tesla di San Francisco, California, Amerika Serikat. Sebelum dipercaya menjadi Autopilot Software Engineer, awalnya Moorissa ditunjuk sebagai Data Scientist.

Diketahui, pekerjaan yang dilakukan Moorissa di Tesla itu tentunya bukanlah pekerjaan yang mudah. Pasalnya, setiap harinya wanita kelahiran 1994 itu diberikan tugas untuk mengevaluasi perangkat lunak Autopilot atau fitur Full-Self-Driving. Bahkan ia juga menguji secara langsung fitur tersebut di mobil dan mencari cara untuk meningkatkan kinerjanya.

"Tugas Autopilot Software Engineer itu mencakup computer vision. Misalnya, gimana sih mobil mendeteksi lingkungan di sekitarnya. Apa ada mobil di depan kita? Tempat sampah di kanan kita? Lalu, bagaimana mobil bergerak atau merencanakan pergerakannya? Misalnya manuver ke kanan atau ke kiri dengan cara tertentu," terangnya.

Proyek yang digarap oleh Moorissa ini juga merupakan tingkat tertinggi dari sistem swakemudi, karena Fitur Full-Self-Driving atau Autopilot ini nantinya akan membuat pengemudi tak perlu lagi menginjak pedal rem dan gas, serta memutar kemudi atau pun memindahkan transmisi. 

Itulah sebabnya yang membuat Moorissa mengakui bahwa proses penggarapan sistem tersebut benar-benar sulit. Ia juga mengatakan butuh waktu sekitar 60 s.d 70 jam kerja dalam seminggu khusus untuk tim Autopilot. Wanita yang gemar melukis untuk mengisi waktu senggangnya itu juga menginginkan sistem Autopilot yang ia kembangkan itu sangat aman digunakan. 

"Jadi sebelum fitur Autopilot ini diluncurkan, tentunya kami akan terlebih dahulu melakukan pengujian yang sangat Ketat dan menghitung semua resiko agar komputer ini benar-benar aman digunakan," tutur wanita yang telah menetap di Amerika Serikat sejak 2011 itu.

Baca: Dari Garut, Voice of Baceprot Guncang Dunia

Tugas yang diemban Moorissa ini bisa dibilang sangatlah krusial. Sehingga tidak sedikit pekerjaan Moorissa yang khusus, diserahkan langsung kepada Chief Executive Officer (CEO) Tesla, Elon Musk. Kendati pekerjaannya itu sulit dan memakan jam kerja yang sangat panjang, namun Moorissa mengaku memiliki keuntungan tersendiri bekerja sebagai Autopilot Software Engineer. 

Bisa dikatakan juga karier Moorisa yang terjun ke dunia Sains, Teknologi, Engineering dan Matematika (STEM) itu memang benar-benar didukung oleh keluarganya sejak kecil. Ia mengaku benar-benar tertarik untuk terjun ke dunia STEM karena terinspirasi dari sang ayah yang merupakan seorang insinyur electric dan entrepreneu.

Dibesarkan di Indonesia, lulusan SMA Pelita Harapan itu mendapatkan beasiswa Wilson and Shannon Technology untuk berkuliah di Seattle Central College. Setelah berusia 18 tahun, pada 2012, Moorisa berhasil meraih gelar Associate Degree atau D3 di bidang sains dan melanjutkan pendidikan S1-nya di Jurusan Teknik Industri dan Statistik, Georgia Institute of Technology, Atlanta, Amerika Serikat.

Sebagai seorang mahasiswi, Moorissa terbilang cukup aktif dalam berorganisasi di kampus. Tak sedikit juga berbagai prestasi berhasil diraihnya. Seperti ia berhasil menggenggam President's Undergaduate Research Award dan nominasi Helen Grenga sebagai insinyur perempuan terbaik di Georgia Tech. 

Tak berhenti sampai disana saja, di usianya ke 19 tahun, Moorissa juga berhasil meraih predikat Summa Cum Laude dan menjadi salah satu lulusan termuda di kampusnya. Setelah menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi, ia sempat bekerja selama dua tahun di perusahaan pemasaran dan periklanan, MarkeTeam di Atlanta. 

Meskipun begitu, kecintaannya pada dunia sains ternyata belum usai. Sehingga ia pun memilih untuk melanjutkan pendidikan S2-nya di Colombia University, New York dengan mengambil jurusan Data Science. Lagi-lagi, sejumlah prestasi kembali ia torehkan. Mulai dari meraih juara pertama Colombia Annual Data Science Hackathon, hingga juara pertama Colombia Impact Hackathon.

Kecintaan Moorisa akan bidang Sains dan terjun ke dunia STEM itu sepertinya sukses membuat Tesla, perusahaan milik Elon Mosk kepincut untuk merekrutnya. Sebab, bidang tersebut juga masih sangat jarang ditekuni oleh kaum perempuan. 

Berdasarkan data dari National Science Foundation di Amerika Serikat, jumlah perempuan yang memiliki gelar sarjana di bidang teknik masih jauh di bawah laki-laki. Terbukti, dari 110 Autopilot engineer di Tesla, hanya ada enam Autopilot Engineer perempuan, termasuk salah satunya Moorissa. 

Tak main-main, dua dari enam perempuan tersebut bahkan telah menduduki jabatan sebagai manajer produk. Meraih banyak prestasi dan berhasil bekerja di perusahaan mobil listrik global sebagai seorang insinyur Autopilot di Amerika Serikat, mungkin merupakan cita-cita yang menjadi kenyataan bagi seseorang yang mencintai dunia sains dan teknologi. 

Moorissa pun berpesan kepada semuanya untuk "Follow your heart," atau "Ikuti kata hatimu". "Meskipun banyak orang yang enggak setuju atau menilai keputusan kita bukan yang terbaik, ikuti saja kata hatimu. Karena kalau kita mengikuti kata hati, kita enggak mungkin nyesel," pesannya.

Kendati tengah menjalani hidup yang dicita-citakan banyak pecinta Sains dan teknologi di Indonesia, namun Moorissa Tjokro yang suka sekali travelling dengan personal style yang simpel dan kasual itu justru memiliki cita-cita yang lebih mulia yakni ingin mendirikan yayasan yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan di Indonesia.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Berita Terkait

Rafi Putra Arriyan dan Perjalanannya Menjadi CEO Flip Fintech

2024-06-27 12:58:37

Kisah Sukses William Sunito dalam Bisnis Online Toko Wahab

2024-06-24 13:47:07

Kisah Sukses Kopi Kamu dalam Menggerakkan Komunitas Down Syndrome

2024-06-19 17:50:27

Gilang Widya Pramana, Sosok di Balik Sukses Bisnis Juragan 99

2024-06-15 12:50:48

Kisah Sukses Rina Marlina dalam Dunia Atletik Parabadminton

2024-06-15 12:05:17

Perjalanan Rorian Pratyaksa Menuju Kepemimpinan CEO di Woobiz

2024-06-05 11:45:43

Kisah Sukses Gibran Huzaifah dan eFishery dalam Teknologi Pertanian

2024-06-03 11:38:34

Kisah Inspiratif Nabilah Alsagoff di Dunia Pembayaran Daring dengan DOKU

2024-05-27 12:24:09

Kisah Sukses Rizky Arief Dwi Prakoso dalam Bisnis Parfum HMNS

2024-05-25 14:15:04

Kisah Sukses Utari Octavianty dalam Memimpin Aruna

2024-05-25 13:14:50

Dian Pelangi: Sosok Inspiratif di Dunia Mode Busana Muslim Indonesia

2024-05-21 13:43:39

Mengenal Marshall Pribadi: Sosok di Balik Kesuksesan PrivyID

2024-05-16 13:17:41

Leonika Sari Njoto Boedioetomo: Penggagas Reblood yang Menginspirasi

2024-04-30 11:30:41