Manten Kucing, Ritual Meminta Hujan Ketika Tanah Kering

Pancar.id, 07 April 2022 20:58:29
Penulis : Rizal Ilham
Manten Kucing, Ritual Meminta Hujan Ketika Tanah Kering

 

Pancar.id - Bagi sebagian kalangan, hujan selalu dikaitkan dengan kopi, puisi, dan sisa genangan yang membekaskan kenangan. Bagi sebagian wilayah, curah hujan yang tinggi mungkin dapat menjadi masalah. Tetapi bagi daerah yang masih merasakan kekeringan yang berimbas pada aktivitas sehari-hari, hujan dinanti-nanti dan diundang dengan cara menggelar tradisi. Sebut salah satunya ialah Desa Pelem, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Desa Pelem memiliki tradisi manten kucing, atau memandikan dua kucing, yang merupakan warisan budaya dan memiliki fungsi sosial sebagai wujud rasa syukur atas berkah yang dilimpahkan Allah Ta’ala. Secara demografi, sebanyak 70 persen penduduk di desa tersebut memang berprofesi sebagai petani dengan sistem pertanian yang masih berupa sistem tadah hujan. Sehingga hujan menjadi salah satu yang vital dan bermakna besar dalam siklus kehidupan.

Prosesi tradisi dimulai dengan pemilihan dua kucing yang diambil dari dua dukuh yang berbeda. Biasanya kucing yang dipilih adalah sepasang kucing candramawa. Kucing candramawa sendiri adalah kucing yang punya unyeng-unyeng di bagian kepala dan dada. Konon, kucing seperti ini dapat membawa kemuliaan dan keberuntungan.

Kedua kucing ini dipertemukan di balai desa setempat dan diarak menuju sumber mata air di bukit Coban Kromo. Sumber mata air tersebut diamini sebagai tempat bersemayamnya arwah para pendiri desa.

Sepanjang jalan, kucing ini akan digendong oleh seorang lelaki dan perempuan menggunakan jarit. Warga desa yang mengikuti dari belakang akan mengiringinya dengan bermacam kesenian khas Tulungagung.

Setelah tiba di lokasi dan hendak memandikan kedua kucing, para sesepuh desa akan berdoa di tempat yang mereka yakini sebagai pusara pendiri desa. Baru setelahnya proses memandikan kucing dilakukan oleh kepala desa.

Air yang digunakan dalam prosesi ritual manten kucing berupa air telaga dengan paduan kembang setaman yang sebelumnya telah dipersiapkan. Usai dimandikan, baru kedua kucing tersebut diarak kembali menuju lokasi pelaminan. Dimana dalam pelaminan tersebut telah disiapkan ubarampe. Kedua kucing tersebut dipertemukan dan keduanya berada di pangkuan sepasang lelaki dan perempuan yang juga mengenakan pakaian pengantin.

Ritual dilanjutkan dnegan prosesi selametan, pembacaan doa dalam bahasa Jawa atau ujub, dan kemudian diakhiri dengan tiban. Tiban merupakan tarian yang dimainkan dua lelaki bertelanjang dada dengan mencambuk satu sama lain menggunakan lidi aren.

*Telah Ada Sejak Zaman Belanda dan Lahir dengan Tidak Sengaja*

Tahun 1926, bertepatan pada masa penjajahan Belanda, kemarau panjang melanda Desa Pelem dan menyebabkan para penduduk tak dapat melakukan pekerjaannya. Ketergantungan penduduk dan sistem tani pada air hujan memang sedemikian besar. Saat itu, memang belum ditemukan irigasi seperti sekarang ini.

Tradisi manten kucing lahir secara tidak sengaja oleh peristiwa tersebut. Sebab pada satu ketika, sesepuh desa bernama Eyang Sangkrah mandi di telaga dekat air terjun Coban bersama sepasang kucing. Seketika turun hujan yang mampu mengakhiri musim kemarau panjang tersebut.

Saat itu penduduk menyebutnya ngedus kucing, bukan manten kucing. Penduduk juga tidak menganggap tradisi ini sebagai ritual sebab tidak ada tata cara khusus dalam melaksanakannya. Apa yang dilakukan oleh Eyang Sangkrah pun sangat sederhana; hanya mandi bersama sepasang kucing tanpa doa atau sajen yang mengiringinya.

Ketika masa Demang Sutomedjo, keturunan Eyang Sangkrah, istilah ritual manten kucing ini muncul. Saat itu dia menjabat sebagai kepala desa dan pada masanya kembali terjadi kemarau panjang. Penduduk kemudian mengajukan prosesi ngedus kucing. Namun suatu ketika, dia mendapat wangsit guna menggelar ritual ngedus kucing yang dibarengi tata cara pelaksanaan. Dengan wangsit tersebut, dilakukan prosesi manten kucing.

Dalam manten kucing, pemimpin dan yang berhak memutuskan penyelenggaraannya hanyalah keturuan Eyang Sangkrah. Jika tidak, dapat menjadi bumerang bagi kelangsungan manten kucing.

*Dari Sakral ke Profan, Polemik Keagamaan, dan Mulai Ditinggalkan*

Mulanya, ritual manten kucing ini adalah ritual yang sakral. Namun dalam perkembangannya berangsur menjadi profan berkat pertimbangan dan upaya Nugroho Adi, keturunan Eyang Sangkrah yang menjabat sebagai kepala desa tahun 2001. Dia membuat manten kucing menjadi pagelaran budaya sehingga dapat disaksikan orang banyak.

Perjalanan Nugroho membumikan budaya ini tidaklah mudah. Dia mengikuti beragam pentas seni daerah sebelum budaya ini tenar pada tahun 2003 dan dipilih sebagai representasi kebudayaan Tulungagung.

Puncaknya, ketenaran ritual ini terjadi tahun 2005 ketika Dinas Pariwisata Jatim menunjuk manten kucing untuk mewakili kebudayaan Jawa Timur di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Namun lima tahun kemudian, budaya ini mengalami anti-klimaks.

Bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Tulungagung, pemerintah mengadakan festival manten kucing dan mengharuskan semua kecamatan menampilkan ritual tersebut. Dari semua yang tampil, ada satu yang menyisipkan unsur-unsur Islam dalam penampilannya. Hal tersebut memancing kecaman keras dari MUI setempat dan berbuntut panjang pada pelarangan kesenian tersebut.

Sejak saat itu, budaya manten kucing mulai kehilangan suara. Selain karena pengaruh agama, perkembangan teknologi untuk suplai air dan perubahan komoditas pertanian pun membuat budaya ini kian kehilangan eksistensi.*

Berita Terkait

Kisah Sukses Kopi Kamu dalam Menggerakkan Komunitas Down Syndrome

2024-06-19 17:50:27

Gilang Widya Pramana, Sosok di Balik Sukses Bisnis Juragan 99

2024-06-15 12:50:48

Kisah Sukses Rina Marlina dalam Dunia Atletik Parabadminton

2024-06-15 12:05:17

Perjalanan Rorian Pratyaksa Menuju Kepemimpinan CEO di Woobiz

2024-06-05 11:45:43

Kisah Sukses Gibran Huzaifah dan eFishery dalam Teknologi Pertanian

2024-06-03 11:38:34

Kisah Inspiratif Nabilah Alsagoff di Dunia Pembayaran Daring dengan DOKU

2024-05-27 12:24:09

Kisah Sukses Rizky Arief Dwi Prakoso dalam Bisnis Parfum HMNS

2024-05-25 14:15:04

Kisah Sukses Utari Octavianty dalam Memimpin Aruna

2024-05-25 13:14:50

Dian Pelangi: Sosok Inspiratif di Dunia Mode Busana Muslim Indonesia

2024-05-21 13:43:39

Mengenal Marshall Pribadi: Sosok di Balik Kesuksesan PrivyID

2024-05-16 13:17:41

Leonika Sari Njoto Boedioetomo: Penggagas Reblood yang Menginspirasi

2024-04-30 11:30:41

Kisah Inspiratif Congliart dalam Dunia Seni dan Desain

2024-04-04 11:10:15

Anton Afganial: Perjalanan Seni dan Inspirasi di Indonesia

2024-03-16 11:18:26